Arsip untuk Uncategorized

Komentar Aja

Sekarang harga minyak dunia tinggi sehingga pemerintah pusing tujuh keliling untuk mengamankan APBN 2008.

Sebagai warga Indonesia, apa yang bisa dilakukan untuk membantu pemerintah dalam rangka mengamankan proses pembangunan?

Kalau saya amati, gak ada tuh warga masyarakat yang peduli dengan hal itu. Gak ada stupun yang peduli bagaimana pemerintah mengatur supaya proses pembangunan tetap berjalan, dan harga-harga tidak melambung tinggi. Yang dibicarakan warga hanya minta harga minyak murah, harga beras murah, harga mobil murah, harga motor murah, tapi harga diri bangsa tinggi.

Ada sebagian masyarakat yang “mampu” bersikap konsumtif, sementara sebagian masyarakat mati kelaparan. Di mana kepedulian kita?

Pusing ah….

Komentar (2)

Memaknai Kerja

Mulai 1 Agustus 2007 kemaren, rasanya hidup semakin tidak tenang. Setiap pagi terasa suasana perjalanan semakin tidak nyaman. Jalanan yang sudah macet jadi terasa lebih macet. Apa sebabnya?

Bisa ditebak, Presensi dengan sistem fingerprint yang diberlakukan di Lingkungan BKF.

Para pegawai yang hadir lewat pukul 07.30 dan pulang kurang dari pukul 17.00 terancam kena potongan TKPKN. Para pegawai tentu saja tidak ingin dan tidak mau TKPKN nya dipotong, sehingga mereka berusaha untuk datang lebih awal. Namun persoalan tidaklah sesederhana itu. Ada akibat yang ditimbulkan dari perasaan takut datang terlambat tersebut, antara lain para pegawai yang mengemudikan kendaraan sendiri cenderung lebih mempercepat laju kendaraannya. Sementara yang menumpang kendaraan umum akan diliputi perasaan cemas dan khawatir, apalagi kalau jalanan macet atau kereta ditahan.

Menurut saya, peningkatan penghasilan yang disertai peningkatan ancaman sungguh tidak memberikan manfaat, terutama kepada suasana kerja. Berangkat kerja terburu-buru, stress meningkat, perasaan cemas, dan sebagainya justru akan menurunkan kinerja pegawai. Logika bahwa datang lebih awal maka produktivitas akan meningkat dalam kasus di Jakarta tidak efektif. Anda bisa bayangkan bahwa para pegawai yang bertempat tinggal di daerah Bogor dan sekitarnya harus keluar rumah pukul 05.30 agar dapat samapi di tempat kerja kurang dari pukul 07.30 dan pada sore harinya baru tiba di rumah paling cepat pukul 18.30. Berarti dalam sehari para pegawai tersebut pergi dari rumah selama 13 jam, gilaaa!!! lebih dari separuh harinya dipakai untuk bekerja. Dari waktu 11 jam yang tersisa, 7 jam digunakan untuk istirahat, praktis tinggal 4 jam waktu senggang. Itupun masih dipotong waktu ibadah dan sebagainya. Kapan waktu kita bercengkerama dengan keluarga? Hari libur? Itu pun kalau tidak ada acara sosial seperti kondangan atau pertemuan warga atau gotong royong.

Pertanyaannya sekarang adalah kita bekerja itu untuk apa dan untuk siapa?

Bekerja untuk mendapatkan imbalan uang menurut saya sudah kuno. Yang lebih tepat sebenarnya adalah bekerja untuk kesejahteraan. Gaji boleh kecil, asalkan kita diberi paling tidak kebutuhan pokok berupa sandang pangan dan perumahan, jaminan kesehatan untuk seluruh keluarga, dan pendidikan untuk anak-anak.


Bekerja untuk ibadah

Kehidupan dunia dan akherat hendaknya seimbang. Antara bekerja untuk mencari kehidupan dunia yang baik harus diseimbangkan dengan bekerja untuk mencari kehidupan akherat yang baik. Jangan sampai karena kesibukan pekerjaan dunia membuat kita lupa akan kehidupan akherat kita.

Mengenai bekerja untuk ibadah dapat dimaknai bahwa dalam melakukan pekerjaan dengan cara-cara yang baik dan untuk tujuan yang baik. Namun adakalanya kita lupa bahwa sebaiknya ibadah tidak mengorbankan ibadah yang lain, yang menurut saya tidak kalah pentingnya. Misalnya saja, kita bekerja seharian di kantor, sementara anak dan isteri juga membutuhkan kehadiran kita. Memang kita tidak mungkin hadir di dua tempat dalam waktu yang sama, oleh karena itu perlu diperhatikan mengenai pembagian waktu antara pekerjaan di kantor dengan keluarga.

Komentar (6)

Berbagi ide, pengalaman, pengetahuan, dan hati

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh…

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah Subhanaahu wa ta’ala yang telah memberikan berjuta kenikmatan kepada kita semua.

Tak ada hal yang begitu berarti kecuali dapat memberikan manfaat kepada sesama manusia. Bukankah orang yang paling baik itu adalah orang yang paling bermanfaat bagi sesamanya?

Dunia ini terlalu luas untuk ditempati sendiri, oleh karena itu kita harus berbagi agar semua manusia bisa merasakan kebersamaan dan kesetaraan. Alangkah indahnya hidup ini jika yang berkelebihan rela membaginya kepada yang kekurangan. Yang berduit banyak membaginya kepada si miskin, yang berilmu membaginya kepada yang awam, demikian pula sebaliknya, yang bersedih dapat membaginya kepada sahabat-sahabatnya agar terasa lebih ringan bebannya.

Demikian kata pembuka dari saya, dan akan ada banyak lagi bagian-bagian buat anda yang mudah-mudahan bermanfaat.

Wassalamu’alaikum

Tinggalkan sebuah Komentar