Memaknai Kerja

Mulai 1 Agustus 2007 kemaren, rasanya hidup semakin tidak tenang. Setiap pagi terasa suasana perjalanan semakin tidak nyaman. Jalanan yang sudah macet jadi terasa lebih macet. Apa sebabnya?

Bisa ditebak, Presensi dengan sistem fingerprint yang diberlakukan di Lingkungan BKF.

Para pegawai yang hadir lewat pukul 07.30 dan pulang kurang dari pukul 17.00 terancam kena potongan TKPKN. Para pegawai tentu saja tidak ingin dan tidak mau TKPKN nya dipotong, sehingga mereka berusaha untuk datang lebih awal. Namun persoalan tidaklah sesederhana itu. Ada akibat yang ditimbulkan dari perasaan takut datang terlambat tersebut, antara lain para pegawai yang mengemudikan kendaraan sendiri cenderung lebih mempercepat laju kendaraannya. Sementara yang menumpang kendaraan umum akan diliputi perasaan cemas dan khawatir, apalagi kalau jalanan macet atau kereta ditahan.

Menurut saya, peningkatan penghasilan yang disertai peningkatan ancaman sungguh tidak memberikan manfaat, terutama kepada suasana kerja. Berangkat kerja terburu-buru, stress meningkat, perasaan cemas, dan sebagainya justru akan menurunkan kinerja pegawai. Logika bahwa datang lebih awal maka produktivitas akan meningkat dalam kasus di Jakarta tidak efektif. Anda bisa bayangkan bahwa para pegawai yang bertempat tinggal di daerah Bogor dan sekitarnya harus keluar rumah pukul 05.30 agar dapat samapi di tempat kerja kurang dari pukul 07.30 dan pada sore harinya baru tiba di rumah paling cepat pukul 18.30. Berarti dalam sehari para pegawai tersebut pergi dari rumah selama 13 jam, gilaaa!!! lebih dari separuh harinya dipakai untuk bekerja. Dari waktu 11 jam yang tersisa, 7 jam digunakan untuk istirahat, praktis tinggal 4 jam waktu senggang. Itupun masih dipotong waktu ibadah dan sebagainya. Kapan waktu kita bercengkerama dengan keluarga? Hari libur? Itu pun kalau tidak ada acara sosial seperti kondangan atau pertemuan warga atau gotong royong.

Pertanyaannya sekarang adalah kita bekerja itu untuk apa dan untuk siapa?

Bekerja untuk mendapatkan imbalan uang menurut saya sudah kuno. Yang lebih tepat sebenarnya adalah bekerja untuk kesejahteraan. Gaji boleh kecil, asalkan kita diberi paling tidak kebutuhan pokok berupa sandang pangan dan perumahan, jaminan kesehatan untuk seluruh keluarga, dan pendidikan untuk anak-anak.


Bekerja untuk ibadah

Kehidupan dunia dan akherat hendaknya seimbang. Antara bekerja untuk mencari kehidupan dunia yang baik harus diseimbangkan dengan bekerja untuk mencari kehidupan akherat yang baik. Jangan sampai karena kesibukan pekerjaan dunia membuat kita lupa akan kehidupan akherat kita.

Mengenai bekerja untuk ibadah dapat dimaknai bahwa dalam melakukan pekerjaan dengan cara-cara yang baik dan untuk tujuan yang baik. Namun adakalanya kita lupa bahwa sebaiknya ibadah tidak mengorbankan ibadah yang lain, yang menurut saya tidak kalah pentingnya. Misalnya saja, kita bekerja seharian di kantor, sementara anak dan isteri juga membutuhkan kehadiran kita. Memang kita tidak mungkin hadir di dua tempat dalam waktu yang sama, oleh karena itu perlu diperhatikan mengenai pembagian waktu antara pekerjaan di kantor dengan keluarga.

& Komentar »

  1. masliliks berkata

    monggo disimak mas nu, strategi dari oom saft
    http://saft7.com/?p=225

    semoga bermanfaat… :D

  2. [...] postingan ini , jadi mikir juga sih. ada yang teng go, alias jam 5 teng langsung absen sidik jari, lalu bergegas [...]

  3. rakhmatp berkata

    Kita harus definisikan lagi apa arti bekerja itu, kalau memang berkeberatan untuk kerja 13 jam ya bisa perdekat jarat rumah-kantor (pindah rumah) atau pindah kantor :)

    http://www.celotehku.com/Rakhmat/2007/08/06/apakah-uang-membawa-bahagia/

  4. Guntur Utomo berkata

    Niat bersih, Hati tulus, Rejeki halal..
    tak pernah luntur oleh debu, tak pernah lekang oleh waktu..maju terus, dengan kepala iklas dan hati yang suci..

    merdeka!

  5. paparino berkata

    Hidup adalah perjuangan bung.. saya juga absen sidik jari n sweerr itu juga gak menjamin meningkatnya produktivitas.
    kalau cuma pencet jari di mesin pagi dan sore , apa jaminannya kalau siangnya tidak ada di kantor?
    saya lebih setuju dengan flexi time. jadi kalau jam kerja saya 8 jam sehari dan kebetulan saya datangnya jam 10 maka paling cepat saya pulang jam setengah 7 sudah dihitung istirahat 30 menit. hehehehe

  6. Bowgank berkata

    Semua keputusan yang kita ambil pasti ada resiko dan dampaknya. Misal : kita memutuskan untuk melamar di perusahaan A dimana perusahaan tersebut memiliki aturan yang ketat yang mewajibkan kita bekerja lebih dari 8 jam dengan upah yang di bawah standar. Atau mungkin kita memutuskan untuk membeli rumah di luar Jakarta yang mengharuskan kita berangkat kerja saat ayam jago berkokok dan pulang saat sang bulan telah menunjukkan wajahnya. Janganlah resiko/dampak tersebut membuat kita stres atau malah depresi. Dibawa santai aja. :) Hal-hal seperti ini yang akan membuat kita semakin kuat dalam menghadapi hidup.

Pengumpan RSS untuk komentar di postingan ini · URI Lacak Balik

Tinggalkan sebuah Komentar