Masalah Korupsi

Masalah Korupsi

 

Sebagai PNS, kadang saya bertanya, apakah rezeki yang saya makan dan bawa pulang itu haram atau halal?

Saya tergelitik dengan ucapan seorang teman di perjalanan tadi siang. Kami membahas mengenai Pilkada, kata teman, “ Saya mau tidak mau milih yang didukung oleh partai-partai yang isinya para koruptor”.

Wah rupanya teman saya peduli dengan masalah korupsi yang sudah begitu mendarah daging dengan kehidupan hampir seluruh rakyat Indonesia. Dari tukang batu yang korupsi bahan bangunan hingga para pejabat publik yang dengan sengaja atau tidak “menyunat” dana kegiatan.

Namun demikian, sudahkah kita menyadarkan diri kita sendiri, apakah kita masih berbuat yang korup atau tidak?

Menurut saya yang paling penting bukan menyoroti apa yang telah dilakukan orang lain, namun apa yang kita lakukan sudahkan bebas korupsi?

Datang dan pulang tepat waktu, tidak menerima suap dan sogok atau sejenisnya, tidak mangkir selama jam kantor, tidak menerima lembur fiktif, tidak me-mark up pengadaan barang dan jasa, tidak memanipulasi anggaran proyek, tidak memaksa anak buah mengeluarkan anggaran proyek/kegiatan untuk kepentingan pribadi atau keluarga sudahkah kita lakukan? Kalau belum, berarti kita juga masih termasuk dalam kelompok koruptor yang harus diberantas.

Kadang kala, sebagai bawahan di satu pihak harus menuruti perintah atasan, namun di pihak lain, hati nurani kita sebenarnya menolak karena yang diperintahkan itu melanggar aturan/hukum. Kalau kita mengerjakan perintah tersebut, berarti kita telah melanggar aturan dan hukum, akan tetapi kalau kita menolaknya, kita akan dinilai tidak kooperatif dan tidak loyal. Apa yang bisa kita perbuat?

Menurut saya, masalah korupsi bukanlah masalah besar kecilnya penghasilan, namun lebih kepada masalah mental. Berapapun penghasilan kita, apabila tidak ada rasa bersyukur di dalam dada, perasaan kekurangan akan selalu menuntut pemenuhan. Akibatnya apabila ada kesempatan untuk mendapatkan tambahan pendapatan, baik yang sah ataupun tidak akan diambil. Kalau perlu, dengan menggunakan anak buahnya sebagai tumbal.

Saya dengar cerita dari teman, ada seorang pejabat tinggi di Indonesia yang melakukan perjalanan wisata bersama keluarganya ditanggung oleh dana proyek yang dipimpinnya. Saya hanya bisa ketawa sekaligus perih mendengarnya. Anak buah yang kebetulan pemegang dana proyek tersebut jadi bingung bagaimana cara menutup kebocoran anggaran tersebut dengan kegiatan yang wajar dan masuk akal. Akhirnya kita para bawahan lah yang terpaksa harus mencari cara agak penyelewengan yang dilakukan oleh atasan kita tersebut tidak diketahui. Ternyata begitu kejadiannya, mengapa ada yang mensinyalir bahwa dana pembangunan mengalami kebocoran sampai 30%.

Orang Indonesia yang mengaku beragama ternyata hanya diucapkan saja. Mereka beragama jika ke Masjid, ke Gereja, ke Pura, ke Wihara. Yang lebih parah ternyata ada yang korupsi di Masjid, Gereja, Pura, Wihara, dll. Uang pembangunan Masjid, uang kesejahteraan umat diselewengkan untuk kepentingan pribadi atau keluarganya.

Takut miskin, takut sengsara, takut dihina, takut ditindas, sebenarnya merupakan perwujudan ketidakberimanan seseorang. Siapapun yang beriman akan tenang menghadapi segala situasi di dunia, bukankah kehidupan di dunia ini hanya sementara? Paling banter cuma 100 tahun.

Selama manusia masih terlalu mencintai dunia ketimbang akheratnya, masalah korupsi tak akan pernah selesai. Wallahu a’lam bisshawab.

& Komentar »

  1. pertamaxs berkata

    …PERTAMAX….

  2. nugrohosutanto berkata

    InsyaAllah Mas Pertamax.

  3. rakhmatp berkata

    Alhamdullilah, walaupun mungkin masih belum yakin diri sendiri bersih tetapi sudah terpikir mengenai hal tersebut :)

Pengumpan RSS untuk komentar di postingan ini · URI Lacak Balik

Tinggalkan sebuah Komentar