Logika Terbalik

yang kaya disubsidi, yang kuat didukung, yang berkecukupan difasilitasi, yang di atas diangkat, yang di depan didorong.

Itulah fenomena umum yang terjadi di Indonesia. Para pejabat tinggi yang sudah kaya dan bergaji besar malahan diberikan segudang fasilitas, dari rumah dinas, mobil dinas, bahkan bensin dan listrik untuk mobil dan rumah dinas pun masih disubsidi oleh negara/bumn. Pejabat dengan gaji puluhan bahkan ratusan juta rupiah sebulan masih menuntut fasilitas yang sebenarnya sudah bisa mereka adakan (beli) sendiri.

Kasus BLBI misalnya, untuk membantu orang-orang kaya agar tidak miskin, pemerintah rela menggelontorkan dana ratusan trilliun rupiah, namun apa hasilnya? kebanyakan dari mereka yang diberikan uang trilliunan rupiah itu pada mangkir untuk membayar. Seandainya dana ratusan trilliun rupiah itu untuk membantu rakyat kecil, katakanlah pengusaha kecil dan menengah, berapa ratus pengusaha yang bisa di angkat dan berapa orang lagi yang bisa diserap sebagai tenaga kerja.

Pemberian fasilitas tersebut ibaratnya menggarami lautan, tidak akan memacu kemajuan lebih lanjut. Itu berarti pemborosan keuangan negara.

Mengutip catatan seorang teman, supaya negara lebih hemat hilangkan fasilitas mobil dinas, rumah dinas, uang bensin, dll. fasilitas para pejabat tinggi negara/bumn. Biarkan mereka memfasilitasi diri mereka sendiri, agar negara tidak perlu mengeluarkan dana yang “tidak penting” untuk “menyuapi” para petinggi negeri ini.

Menurut saya, jika logika seperti itu tetap dipertahankan, Indonesia tidak akan pernah bisa maju.

bingung dah….

Komentar

Komentar Aja

Sekarang harga minyak dunia tinggi sehingga pemerintah pusing tujuh keliling untuk mengamankan APBN 2008.

Sebagai warga Indonesia, apa yang bisa dilakukan untuk membantu pemerintah dalam rangka mengamankan proses pembangunan?

Kalau saya amati, gak ada tuh warga masyarakat yang peduli dengan hal itu. Gak ada stupun yang peduli bagaimana pemerintah mengatur supaya proses pembangunan tetap berjalan, dan harga-harga tidak melambung tinggi. Yang dibicarakan warga hanya minta harga minyak murah, harga beras murah, harga mobil murah, harga motor murah, tapi harga diri bangsa tinggi.

Ada sebagian masyarakat yang “mampu” bersikap konsumtif, sementara sebagian masyarakat mati kelaparan. Di mana kepedulian kita?

Pusing ah….

Komentar (2)

Memaknai Kerja

Mulai 1 Agustus 2007 kemaren, rasanya hidup semakin tidak tenang. Setiap pagi terasa suasana perjalanan semakin tidak nyaman. Jalanan yang sudah macet jadi terasa lebih macet. Apa sebabnya?

Bisa ditebak, Presensi dengan sistem fingerprint yang diberlakukan di Lingkungan BKF.

Para pegawai yang hadir lewat pukul 07.30 dan pulang kurang dari pukul 17.00 terancam kena potongan TKPKN. Para pegawai tentu saja tidak ingin dan tidak mau TKPKN nya dipotong, sehingga mereka berusaha untuk datang lebih awal. Namun persoalan tidaklah sesederhana itu. Ada akibat yang ditimbulkan dari perasaan takut datang terlambat tersebut, antara lain para pegawai yang mengemudikan kendaraan sendiri cenderung lebih mempercepat laju kendaraannya. Sementara yang menumpang kendaraan umum akan diliputi perasaan cemas dan khawatir, apalagi kalau jalanan macet atau kereta ditahan.

Menurut saya, peningkatan penghasilan yang disertai peningkatan ancaman sungguh tidak memberikan manfaat, terutama kepada suasana kerja. Berangkat kerja terburu-buru, stress meningkat, perasaan cemas, dan sebagainya justru akan menurunkan kinerja pegawai. Logika bahwa datang lebih awal maka produktivitas akan meningkat dalam kasus di Jakarta tidak efektif. Anda bisa bayangkan bahwa para pegawai yang bertempat tinggal di daerah Bogor dan sekitarnya harus keluar rumah pukul 05.30 agar dapat samapi di tempat kerja kurang dari pukul 07.30 dan pada sore harinya baru tiba di rumah paling cepat pukul 18.30. Berarti dalam sehari para pegawai tersebut pergi dari rumah selama 13 jam, gilaaa!!! lebih dari separuh harinya dipakai untuk bekerja. Dari waktu 11 jam yang tersisa, 7 jam digunakan untuk istirahat, praktis tinggal 4 jam waktu senggang. Itupun masih dipotong waktu ibadah dan sebagainya. Kapan waktu kita bercengkerama dengan keluarga? Hari libur? Itu pun kalau tidak ada acara sosial seperti kondangan atau pertemuan warga atau gotong royong.

Pertanyaannya sekarang adalah kita bekerja itu untuk apa dan untuk siapa?

Bekerja untuk mendapatkan imbalan uang menurut saya sudah kuno. Yang lebih tepat sebenarnya adalah bekerja untuk kesejahteraan. Gaji boleh kecil, asalkan kita diberi paling tidak kebutuhan pokok berupa sandang pangan dan perumahan, jaminan kesehatan untuk seluruh keluarga, dan pendidikan untuk anak-anak.


Bekerja untuk ibadah

Kehidupan dunia dan akherat hendaknya seimbang. Antara bekerja untuk mencari kehidupan dunia yang baik harus diseimbangkan dengan bekerja untuk mencari kehidupan akherat yang baik. Jangan sampai karena kesibukan pekerjaan dunia membuat kita lupa akan kehidupan akherat kita.

Mengenai bekerja untuk ibadah dapat dimaknai bahwa dalam melakukan pekerjaan dengan cara-cara yang baik dan untuk tujuan yang baik. Namun adakalanya kita lupa bahwa sebaiknya ibadah tidak mengorbankan ibadah yang lain, yang menurut saya tidak kalah pentingnya. Misalnya saja, kita bekerja seharian di kantor, sementara anak dan isteri juga membutuhkan kehadiran kita. Memang kita tidak mungkin hadir di dua tempat dalam waktu yang sama, oleh karena itu perlu diperhatikan mengenai pembagian waktu antara pekerjaan di kantor dengan keluarga.

Komentar (6)

Masalah Korupsi

Masalah Korupsi

 

Sebagai PNS, kadang saya bertanya, apakah rezeki yang saya makan dan bawa pulang itu haram atau halal?

Saya tergelitik dengan ucapan seorang teman di perjalanan tadi siang. Kami membahas mengenai Pilkada, kata teman, “ Saya mau tidak mau milih yang didukung oleh partai-partai yang isinya para koruptor”.

Wah rupanya teman saya peduli dengan masalah korupsi yang sudah begitu mendarah daging dengan kehidupan hampir seluruh rakyat Indonesia. Dari tukang batu yang korupsi bahan bangunan hingga para pejabat publik yang dengan sengaja atau tidak “menyunat” dana kegiatan.

Namun demikian, sudahkah kita menyadarkan diri kita sendiri, apakah kita masih berbuat yang korup atau tidak?

Menurut saya yang paling penting bukan menyoroti apa yang telah dilakukan orang lain, namun apa yang kita lakukan sudahkan bebas korupsi?

Datang dan pulang tepat waktu, tidak menerima suap dan sogok atau sejenisnya, tidak mangkir selama jam kantor, tidak menerima lembur fiktif, tidak me-mark up pengadaan barang dan jasa, tidak memanipulasi anggaran proyek, tidak memaksa anak buah mengeluarkan anggaran proyek/kegiatan untuk kepentingan pribadi atau keluarga sudahkah kita lakukan? Kalau belum, berarti kita juga masih termasuk dalam kelompok koruptor yang harus diberantas.

Kadang kala, sebagai bawahan di satu pihak harus menuruti perintah atasan, namun di pihak lain, hati nurani kita sebenarnya menolak karena yang diperintahkan itu melanggar aturan/hukum. Kalau kita mengerjakan perintah tersebut, berarti kita telah melanggar aturan dan hukum, akan tetapi kalau kita menolaknya, kita akan dinilai tidak kooperatif dan tidak loyal. Apa yang bisa kita perbuat?

Menurut saya, masalah korupsi bukanlah masalah besar kecilnya penghasilan, namun lebih kepada masalah mental. Berapapun penghasilan kita, apabila tidak ada rasa bersyukur di dalam dada, perasaan kekurangan akan selalu menuntut pemenuhan. Akibatnya apabila ada kesempatan untuk mendapatkan tambahan pendapatan, baik yang sah ataupun tidak akan diambil. Kalau perlu, dengan menggunakan anak buahnya sebagai tumbal.

Saya dengar cerita dari teman, ada seorang pejabat tinggi di Indonesia yang melakukan perjalanan wisata bersama keluarganya ditanggung oleh dana proyek yang dipimpinnya. Saya hanya bisa ketawa sekaligus perih mendengarnya. Anak buah yang kebetulan pemegang dana proyek tersebut jadi bingung bagaimana cara menutup kebocoran anggaran tersebut dengan kegiatan yang wajar dan masuk akal. Akhirnya kita para bawahan lah yang terpaksa harus mencari cara agak penyelewengan yang dilakukan oleh atasan kita tersebut tidak diketahui. Ternyata begitu kejadiannya, mengapa ada yang mensinyalir bahwa dana pembangunan mengalami kebocoran sampai 30%.

Orang Indonesia yang mengaku beragama ternyata hanya diucapkan saja. Mereka beragama jika ke Masjid, ke Gereja, ke Pura, ke Wihara. Yang lebih parah ternyata ada yang korupsi di Masjid, Gereja, Pura, Wihara, dll. Uang pembangunan Masjid, uang kesejahteraan umat diselewengkan untuk kepentingan pribadi atau keluarganya.

Takut miskin, takut sengsara, takut dihina, takut ditindas, sebenarnya merupakan perwujudan ketidakberimanan seseorang. Siapapun yang beriman akan tenang menghadapi segala situasi di dunia, bukankah kehidupan di dunia ini hanya sementara? Paling banter cuma 100 tahun.

Selama manusia masih terlalu mencintai dunia ketimbang akheratnya, masalah korupsi tak akan pernah selesai. Wallahu a’lam bisshawab.

Komentar (3)

Berbagi Bumi

Ya Allah, bukankah Engkau menciptakan Bumi ini untuk manusia? Bukankah Engkau tak meminta pajak ataupun bayaran untuk bumiMu kepada manusia?

Tapi mengapa masih banyak manusia yang tak memiliki tempat di Bumi-Mu, sementara yang lain menguasai berpuluh bahkan beribu hektar milik-Mu. Apakah mereka yang menguasai tanah-Mu itu lebih berbakti kepada-Mu? Atau mereka yang tak menguasai tanah-Mu tidak pernah menyembah-Mu?

Wahai Dzat Yang Memiliki Bumi, Langit dan seisinya…

Tunjukkan kepada hambamu ini ilmu agar mampu memahami pelajaran yang Engkau sampaikan melalui ayat-ayatmu….

Komentar

Berbagi Kesibukan

Dalam sebuah tim, sudah selayaknya ada pembagian job yang jelas. Selain jelas juga harus adil. Artinya, tiap-tiap anggota tim harus diberikan tugas yang sesuai dengan kemampuan(skill) dan kesanggupan masing-masing. Apabila terjadi pembagian tugas yang tidak adil, akibatnya dapat menimbulkan kecemburuan teman satu tim. Misalnya si A mendapat tugas yang lebih banyak dari si B, sementara jatah honor yang didapat mereka adalah sama. Kemungkinan besar si A akan komplain, minimal akan menggerutu. Apabila persoalan itu tidak segera ditangani, bisa jadi keseimbangan tim akan mengalami kegoncangan. Akhirnya target dari tim tidak dapat tercapai, minimal tujuan akan mengalami keterlambatan. Yang lebih ekstrim bisa terjadi perang dingin yang hasilnya perpecahan dan konflik.

Oleh karena itu, sebagai seorang pimpinan, baik itu di rumah, di kantor, di tim olah raga, atau di mana saja, berbagi tugas merupakan cara untuk memaksimalkan kinerja tim. Cobalah memahami karakter dan kapasitas dari anggota kelompok, dan tempatkan mereka pada posisi yang tepat agar dapat menghasilkan sesuatu yang maksimal.

Mulailah dari sekarang, tak ada kata terlambat untuk mencoba sesuatu yang baik.

Wassalam

Komentar (1)

Berbagi ide, pengalaman, pengetahuan, dan hati

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh…

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah Subhanaahu wa ta’ala yang telah memberikan berjuta kenikmatan kepada kita semua.

Tak ada hal yang begitu berarti kecuali dapat memberikan manfaat kepada sesama manusia. Bukankah orang yang paling baik itu adalah orang yang paling bermanfaat bagi sesamanya?

Dunia ini terlalu luas untuk ditempati sendiri, oleh karena itu kita harus berbagi agar semua manusia bisa merasakan kebersamaan dan kesetaraan. Alangkah indahnya hidup ini jika yang berkelebihan rela membaginya kepada yang kekurangan. Yang berduit banyak membaginya kepada si miskin, yang berilmu membaginya kepada yang awam, demikian pula sebaliknya, yang bersedih dapat membaginya kepada sahabat-sahabatnya agar terasa lebih ringan bebannya.

Demikian kata pembuka dari saya, dan akan ada banyak lagi bagian-bagian buat anda yang mudah-mudahan bermanfaat.

Wassalamu’alaikum

Komentar